Adab Berpuasa: Berbuka dan Sahur

Adab menjadi ihwal manakala dikaitkan dengan keadilan. Namun bisa saja sebaliknya, adab menjadi ambigu apabila tidak sesuai dengan akhlak. Urgensi akhlak dengan adab sangat erat; hingga lengket seperti perangko. Tak ayal, banyak sekali orang memburu akhlak pada keseharian, tapi lupa bahwasanya beradab jauh lebih penting. Dikutip dari buku Akhlak Islam karya Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, disebutkan bahwa akhlak adalah karakter, tabiat, marwah, dan agama. Sedangkan secara bahasa, akhlak berasal dari kata "Khuluq" yang artinya tingkah laku, tabiat, atau perangai. Disamping itu, beberapa kamus memberikan arti kata adab dengan: kesopanan, pendidikan, pesta, dan akhlak. Ada juga yang mengartikan kata adab sebagai etika. Imam Bukhari mendefinisikan adab, yaitu menggunakan sesuatu yang terpuji dalam perkataan dan perbuatan. Menurut para ulama Sufi, adab adalah kumpulan dari beberapa kebaikan. Singkat cerita, apabila beradab pasti berakhlak, namun berakhlak belum tentu beradab. Tidak heran bahwa Sila ke-2 berbunyi “ kemanusiaan yang adil dan beradab.”
Gayung bersambut dengan sila pertama yang berbunyi “ Ketuhanan yang Maha Esa.” Puasa menjadi ibadah yang termasuk ke dalam rukun Islam. Faidahnya tentu sudah sangat dipahami oleh seluruh umat. Selain merupakan kewajiban, puasa juga menjadi ibadah yang berfaidah secara hakiki. Selain menjaga diri dari hawa nafsu, ternyata puasa juga menyehatkan tubuh manusia. Bisa-bisanya, dokter atau perawat menyarankan untuk berpuasa jikalau akan melakukan tensi darah maupun MCU. Ternyata, peredaran darah dan aktivitas jantung bisa lebih kondusif dalam agenda puasa.
Adab Berpuasa
Dikutip dari Al Izza Bin Abdissalam dalam Maqashidus Shaum (w.660) menyatakan bahwa ada 6 adab berpuasa diantaranya: Pertama, menjaga lisan dan anggota tubuh dari perkara yang jelek. Kedua, ketika ada yang menghina bahkan mengajak melakukan perkara yang membatalkan, maka katakana bahwa kita sedang puasa. Ketiga, Berdoa ketika berbuka puasa. Keempat, Berbuka puasa dengan yang manis-manis. Kelima dan keenam, menyegerakan berbuka puasa serta mengakhirkan sahur.
Kalau ada pertanyaan, pada waktu apa umat Islam sangat disiplin. Jawabannya adalah waktu berbuka puasa. Orang yang berkendara saja langsung berhenti mendadak karena adzan maghrib berkumandang. Bahkan, orang yang adzan pun membatalkan puasa sebelum menunaikan adzan maghrib. Tak ayal, ada beberapa penumpang ojek bertanya mengapa berhenti secara tiba-tiba. Ternyata tukang ojek sedang berbuka puasa sejenak di atas motor/mobil.
Menyegerakan Berbuka Puasa
Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah Saw bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan untuk berbuka.”
Kebaikan tersebut dapat dimaknai sebagai tindakan preventif dalam menjaga kesehatan. Sebab, ketika puasa dilaksanakan, tentunya lambung menahan lapar, badan lemas tidak berdaya, dan tenggorakan kering; butuh pelepas dahaga.
Mengakhirkan Sahur
Berbeda lagi ceritanya, mengapa sampai sahur dianjurkan untuk paling akhir dilaksanakan. Mengenai sahur, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, yaitu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا. فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سُحُوْرِهِمَا، قَامَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَصَلَّى، قُلْنَا لِأَنَسٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سُحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ ؟ قَالَ: قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِيْنَ آيَةً
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan shalat. Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.”
Tentulah, umat Islam sangat mengidam-idamkan puasa yang ideal dengan cara beradab mengerjakannya. Adab yang sesuai, akan membuat seseorang yang berpuasa menjadi lebih optimal dalam menjalankan ibadah yang sangat disenangi oleh Allah swt. Sampai ada ibarat bahwa bau mulut orang berpuasa seperti halnya wanginya minyak misik yang harum nan mewangi. Melalui puasa yang memandang adab sebagai salah satu hal yang esensi, maka ibadah puasa akan sempurna dan diterima di sisi-Nya.